Modernis.co, Jakarta – Pabrik infus raksasa milik Muhammadiyah siap meluncur! Pimpinan Pusat Muhammadiyah tengah melakukan langkah besar dengan membangun pabrik cairan infus raksasa.
Entitas bisnis baru Muhammadiyah, yaitu PT Suryavena Farma Indonesia, menggarap proyek ini untuk memperkuat kemandirian sektor kesehatan Persyarikatan Muhammadiyah.
Muhammadiyah berencana membangun pabrik infus raksasa dengan kapasitas produksi hingga 15 juta botol per tahun. Pembangunan fasilitas kesehatan ini bukan euforia, melainkan kebutuhan!
Muhammadiyah akan menggunakan sebagian besar produksi untuk memenuhi kebutuhan internal rumah sakit dan kliniknya yang terus berkembang. Selain itu, Muhammadiyah juga akan memasarkan hasil produksinya secara umum.
Langkah ini diambil karena kebutuhan infus di fasilitas kesehatan Muhammadiyah sangat besar. Saat ini, Muhammadiyah mengelola sekitar 130 rumah sakit dan lebih dari 300 klinik, tetapi masih bergantung pada pihak lain untuk pasokan medis.

Direktur Utama perusahaan tersebut, Tatat Rahmita Utami, menyebut langkah ini sebagai strategi penting untuk memperkuat sektor kesehatan organisasi.
“Selama ini Muhammadiyah kuat di sektor kesehatan dan pendidikan. Namun, untuk suplai alat kesehatan dan obat-obatan, masih bergantung pada pihak luar” ujarTatat saat setelah peluncuran PT Suryavena Farma Indonesia di Gedung Dakwah Muhammadiyah (13/4).
Tatat juga mengungkapkan kendala yang selama ini terjadi, “Karena masih menumpang di pabrik lain, ada keterbatasan suplai” lanjutnya.
Persiapan Pembangunan Pabrik infus Raksasa
Muhammadiyah menyiapkan lahan sekitar 14 hektare yang telah melalui studi kelayakan. Pendanaan proyek akan berasal dari kombinasi sumber, termasuk perbankan dan investor.
Pembangunan pabrik cairan infus raksasa Muhammadiyah segera dimulai. Pabrik ini rampung dengan target mulai beroperasi pada akhir 2027 atau awal 2028.
Muhammadiyah akan membangun pabrik infus ini di kawasan Karangploso, Malang, Jawa Timur. Mereka memilih lokasi tersebut karena kawasan itu menjadi salah satu pusat industri cairan infus di Indonesia dan memenuhi kelayakan teknis, termasuk dari segi kualitas air.
Meski berpengalaman di bidang kesehatan, Muhammadiyah menggandeng banyak pihak dalam pembangunan pabrik infus tersebut.
Salah satunya ketika melakukan studi kelayakan, mereka menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk memastikan kesiapan teknis dan finansial proyek.
Pembangunan pabrik infus ini menjadi langkah strategis Muhammadiyah untuk naik kelas dari sekadar penyedia layanan kesehatan menjadi produsen kebutuhan medis.
Jika berjalan sesuai rencana, proyek ini tidak hanya memperkuat kemandirian internal, tetapi juga berpotensi memberi kontribusi besar bagi industri kesehatan nasional.
Pembangunan pabrik infus raksasa Muhammadiyah memberi banyak manfaatnya bagi masyarakat. Proyek ini membuka lapangan pekerjaan baru dan memudahkan akses layanan kesehatan.

Kirim Tulisan Lewat Sini